SDN Wonosuko gelar Isro' mi'raj dengan penuh kegembiraan sebagai pondasi spiritualis bangsa

Isra’ Mi’raj Sebagai Pondasi Spiritualitas Bangsa menuju Indonesia Maju Tanggal 27 Januari 2025 bertepatan juga dengan tanggal 27 Rajab 1446 H. Di bulan Rajab yang mulia ini kita kembali memperingati peristiwa besar dan istimewa, yaitu peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itu, sebagai umat Islam, kita harus mengetahui apa makna Isra’ Mi’raj, bagaimana kisah perjalanan Nabi dalam Isra’ Mi’raj? Dan apa pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Pengertian dari isra’ sendiri adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa sedangkan mi'raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa menuju sidratul muntaha atau langit ketujuh. Dalam perjalanan Isra’ Mi'raj ini mengisahkan bahwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting bagi umat Islam Karena pada saat yang sama beliau mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu dalam sehari semalam. Adapun perjalanan Rasulullah SAW saat Isra’ Mi'raj ini diabadikan dalam surat Al-Isra ayat [17]:1 yang artinya: "Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." Isra’ Mi'raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah, sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra’ Mi'raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi'raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya itu secara langsung, karena pada saat itu da'wah Nabi sedang pada masa sulit, penuh duka cita (Wafatnya Paman Abu Thalib dan Istri Nabi, Ummul Mukminin Khadijah Al Kubro). Oleh karena itulah pada peristiwa tersebut Nabi Muhammad juga dipertemukan dengan para nabi sebelumnya, agar Muhammad SAW juga bisa melihat bahwa mereka pun mengalami masa-masa sulit, sehingga Nabi SAW bertambah motivasi dan semangatnya. Para ulama menyatakan bahwa ketika Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam keadaan tidak tidur atau masih terjaga, bukan sebuah mimpi, dengan mengendarai Buraq. Dalam perjalanannya bersama Malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW singgah dilima tempat, dan pada setiap tempat beliau singgah Nabi Muhammad SAW berhenti sejenak dan melaksanakan shalat 2 rakaat. Adapun tempat yang beliau singgah antara lain yaitu Kota Madinah, karena malaikat Jibril menjelaskan bahwa tempat inilah kelak Nabi Muhammad SAW berhijrah. Selanjutnya beliau singgah di Kota Madyan, dimana tempat persembunyian Nabi Musa AS dari kejaran tentara Fir’aun. Lalu tempat yang ketiga yaitu di Thuur Sina, dimana tempat Nabi Musa AS berbicara langsung dengan Allah SWT. Kemudianuntuk keempat kalinya Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril berhenti sejenak dan melakukan shalat dua rakaat di Baitul Lahm, tempat Nabi Isa AS dilahirkan. Dan tempat yang terakhir yaitu Masjidil Aqsha. Selama perjalanan Isra Mi'raj yang penuh keajaiban, Nabi Muhammad SAW dihadapkan dengan pilihan antara kebaikan dan keburukan. Beliau dengan bijaksana memilih susu, melambangkan kesucian dan jalan yang diridhoi Allah. Ini menjadi gambaran bahwa beliau dan umatnya akan senantiasa di jalan kebenaran. Setelah shalat berjamaah di Masjid Al Aqsa, Nabi Muhammad SAW bersama Malaikat Jibril melesat menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT. Dalam perjalanan, mereka singgah di tujuh lapis langit, bertemu para nabi terdahulu, diantaranya: 1. Langit pertama, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam AS 2. Langit kedua, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Ishaq AS 3. Langit ketiga, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Yusuf AS 4. Langit keempat Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Idris AS 5. Langit kelima, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Harun AS 6. Langit keenam, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Musa AS 7. Langit ketujuh, Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS Setelah bertemu dengan nabi-nabi terdahulu beliau bersama Malaikat Jibril singgah untuk mengunjungi Baitul Makmur, tempat para malaikat beribadah. Kemudia Nabi Muhammad naik lagi ke Sidratul Muntaha. Di sisni Nabi Muhammad bertemu dengan Allah subhanahu wata’ala. Allah mewajibkan kepada Nabi untuk melaksanakan shalat fardlu sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan kemudian kembali pulang, dalam perjalanan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam. Nabi Musa mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari, Nabi Musa mengatakan, umatku telah membuktikannya. Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali pada Allah subhanahu wata’ala, mohonlah keringanan untuk umatmu. Kemudian Nabi menghadap kepada Allah dan diringankan menjadi shalat sepuluh kali. kemudian Nabi Muhammad kembali kepada Nabi Musa, dan Nabi Musa mengingatkan sebagaimana yang pertama. Kembali Nabi menghadap Allah hingga dua kali, dan akhirnya Allah mewajibkan shalat lima waktu. Nabi Muhammad kembali pada Nabi Musa, Nabi musa tetap mengatakan bahwa umatmu tidak akan kuat wahai Nabi Muhammad, Nabi Muhammad menjawab, saya malu untuk kembali menghadap pada Allah. Saya ridho dan pasrah kepada Allah. Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah, Sirah Nabawiyah, Juz 2 halaman 94 menceritakan, keesokan harinya, Nabi menyampaikan peristiwa tentang Isra’ Mi’raj terhadap kaum Quraisy. Mayoritas orang Quraisy ingkar terhadap kisah yang disampaikan Nabi Muhammad, bahkan sebagian kaum muslimin ada yang kembali murtad karena tidak percaya terhadap kisah yang disampaikan Nabi. Melihat hal tersebut, Abu Bakar bergegas untuk membenarkan kisah Isra’ Mi’raj Nabi, beliau mengatakan: sungguh aku percaya terhadap berita dari langit, apakah yang hanya tentang berita Baitul Maqdis aku tidak percaya? Sejak saat itu sahabat Abu Bakar dijuluki Nabi dengan sebutan Abu Bakar As-Shiddiq (artinya 'yang berkata benar'). Terkait peringatan Isra Mi'raj, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengingatkan umat Islam akan salah satu ajaran penting dalam agama, yakni salat. Nasaruddin mengajak umat Islam untuk menegakkan salat sebagai wujud nyata implementasi dari peristiwa penting tersebut. Dalam pesannya, Menag menegaskan bahwa salat memiliki peran yang sangat penting sebagai fondasi spiritualitas dan tiang agama. "Rasulullah menyebut salat sebagai mi’rajnya orang mukmin. Salat tidak hanya mengajarkan kedisiplinan dan ketundukan kepada Sang Pencipta, tetapi juga menjadi sarana untuk menebar kedamaian dan keselamatan melalui salam yang menutup ibadah ini," ujarnya. "Salat menguatkan spiritualitas umat dalam membangun bangsa. Ketika fondasi ini kokoh, maka nilai-nilai toleransi, persatuan, dan harmoni sosial akan tumbuh subur," ujarnya. Menurut Nasaruddin, kesalehan individu yang ditanamkan lewat salat pun harus berdampak pada interaksi sosial. "Kesalehan individual yang ditanamkan melalui salat harus berdampak pada kesalehan sosial, yang menjadi pilar penting dalam membangun masyarakat yang adil dan bermartabat," paparnya. Marilah, dalam rangka memperingati Isra’ Mi’raj ini kita jadikan sebagai momentum untuk meningkatkan spiritualitas kita dalam mendekatkan diri kepada Alloh.

Nofi Anggraeni

1/27/20251 min read